Beranda Uncategorized Setelah Bertengkar & Berpisah dengan Pacarnya, Wanita Ini Syok Tiba-Tiba Dapat SMS...

Setelah Bertengkar & Berpisah dengan Pacarnya, Wanita Ini Syok Tiba-Tiba Dapat SMS Begini

454
Loading...

Aku telah menjalin hubungan dengan Andi cukup lama. Awalnya semua berjalan baik-baik saja, hingga aku harus pergi ke kota untuk melanjutkan kuliah.

Kami hanya bisa meluapkan rindu melalui telepon, pesan pendek, dan video call. Apa hendak dikata, jarak telah memisahkan aku dan dirinya.

Semula, tak ada yang berubah. Namun, semakin berjalannya waktu, aku semakin tenggelam dalam kesibukan dan Andi merasa terabaikan.

Pertengkaran seringkali terjadi. Dia menuntut perhatian lebih, tapi aku tak bisa. Dunia kami sangat berbeda. Aktivitas sebagai mahasiswi benar-benar padat dan tak bisa ditinggalkan begitu saja. Tugas jurnal, makalah, presentasi, dan berbagai pernak pernik lainnya yang membuatku pusing. Dan tentu, tak bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk Andi.

Hingga puncaknya, menjelang beberapa bulan memasuki tahun ke empat, pertengkaran hebat pun terjadi. Rupanya, Andi tak tahan dengan segala sikapku dan tak mau tau dengan kegiatanku. Padahal, aku sangat berharap dia bisa mengerti dengan semua keadaanku. Akhirnya, kami berpisah. Komunikasi terhenti total.

Aku berusaha menjadi wanita tangguh. Walau kenyataannya, seolah ada rasa sakit yang menyayat-nyayat hati pasca perpisahan itu. Memang terasa berat, tapi seiring banyaknya kesibukan yang menyita waktu, aku mulai terbiasa.

Tak terasa, kuliah S1 selesai dan aku menyandang gelar sarjana. Kuputuskan untuk pulang kampung terlebih dulu sebelum melanjutkan S2.

Tentu saja, kepulangan ini kembali membawa masa lalu ke permukaan. Kisah tentang dia hadir dengan sendirinya. Dan aku tidak tahu, bagaimana kabarnya.

Setelah 10 jam naik kereta api, aku akhirnya bisa merebahkan punggung di atas kasur.

Esoknya, aku bangun agak telat karena masih merasa kelelahan. Seharian aku menghabiskan waktu bersama keluarga. Lalu, pada malam harinya aku mulai bermain dengan adikku. Ketika menjelaskan tentang kupu-kupu, aku bingung menggunakan kata metamorfosa atau metamorfosis.

Kuambil ponsel untuk browsing—setelah mengabaikannya satu hari penuh, ternyata ada beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab.

Kubuka pesan pertama, “Hana, Andi meninggal.”

Deg! Ada perasaan aneh menjalari tubuhku. Tapi aku tak tahu itu apa. Jantungku tiba-tiba terasa berdegup lebih kencang. Dada terasa dihentak hentak.

“Ah, tak mungkin.” Aku membatin. Tapi, setelah membuka pesan-pesan berikutnya, isinya sama saja. Berita tentang kematian Andi. Bahkan ada dari sepupunya.

Badanku terasa lemas. Kenyataan ini begitu berat. Aku berusaha untuk tak menangis. Dan memang aku tak menangis. Esoknya, hingga esoknya lagi.

Aku merasa tak lagi mencintainya, tapi mengapa begitu kehilangan. Entahlah, apa perasaan itu masih ada atau tidak, yang jelas hatiku merasa sakit dan tak ingin menerima.

Pagi harinya, aku melayat ke rumah Andi. Mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir. Hatiku berduka, tapi mataku tak menangis.

Dan saat itu orang-orang mengira bahwa aku masih memiliki hubungan dengan Andi. Ah, aku tersadar, berapa berat beban yang dia tanggung selama ini.

Kukira, setelah kami putus semuanya selesai. Ternyata tak bisa begitu saja, dia harus menghadapi berbagai pertanyaan dan menanggung beban itu. Rasanya, aku benar-benar telah menjadi wanita egois. Tapi, semua sudah terlambat.

 

***

 

Sumber: hiwpwee.com/lebih baik aku hadir di pernikahanmu

 

Loading...